Santatheresiadepok.sch.id – Persekolahan Santa Theresia Depok merayakan hari jadinya dengan penuh sukacita melalui Perayaan Ekaristi Kudus, Jumat (2/10/2026). Perayaan tersebut menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan panjang sekolah sekaligus meneguhkan kembali komitmen pendidikan dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan memiliki kasih.
Ketua Yayasan Yohanes Paulus Depok, Simon Zelotes, menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan karena seluruh keluarga besar Persekolahan Santa Theresia dapat mengikuti Perayaan Ekaristi dalam rangka memperingati perjalanan sekolah yang telah memasuki usia 42 tahun. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Romo Agus (RD. Agustinus Surianto Himawan), juga menjabat pembina Yayasan, yang berkenan memimpin dan mempersembahkan misa kudus pada kesempatan tersebut.
Simon menyampaikan bahwa Santa Theresia bukan sekadar tempat untuk menimba ilmu. Sekolah menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat, membangun karakter, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Peringatan ulang tahun tersebut juga bertepatan dengan Pesta Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus yang diperingati setiap 1 Oktober.
Menurut Simon, perjalanan selama puluhan tahun merupakan bukti bahwa keberadaan Persekolahan Santa Theresia tidak terlepas dari penyertaan Tuhan. Berbagai tantangan yang muncul seiring perubahan zaman dapat dilewati karena adanya campur tangan Tuhan sekaligus kerja keras seluruh keluarga besar sekolah.
“Usia ini bukan lagi usia yang muda. Kita patut bersyukur karena dalam perjalanan panjang ini, penyertaan Tuhan sungguh nyata. Sekolah terus mampu melewati berbagai tantangan di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat,” demikian inti pesan Simon dalam perayaan tersebut.
Perayaan Ekaristi berlangsung meriah. Misa dipimpin Romo Agus dan didukung oleh koor SMP Santa Theresia. Anak-anak SD turut mempersembahkan tarian Dayak sebagai bagian dari persembahan. Kehadiran peserta didik dari tingkat PG/TK hingga SMP membuat suasana perayaan semakin semarak dan penuh kegembiraan.
Dalam homilinya, Romo Agus mengajak seluruh peserta didik meneladani kehidupan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Anak-anak diajak memahami bahwa untuk menjadi pribadi yang baik tidak selalu harus melakukan sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana dan tugas sehari-hari dapat menjadi bentuk kasih kepada Tuhan apabila dilakukan dengan tulus dan penuh cinta.
Romo Agus juga mengingatkan anak-anak agar menerapkan kasih tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam relasi dengan teman-teman di sekolah. Anak-anak diajak untuk tidak saling menyakiti, mengejek maupun merendahkan satu sama lain.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak-anak yang pintar secara akademis. Anak-anak juga perlu memiliki hati yang baik dan mampu menunjukkan kasih kepada sesama, sebagaimana teladan yang ditunjukkan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus.
“Anak-anak tidak hanya dididik menjadi pintar, tetapi juga harus menjadi pribadi yang baik hati,” menjadi salah satu pesan penting Romo Agus dalam perayaan tersebut.
Anak-anak PG/TK juga mendapat kesempatan mengikuti Perayaan Ekaristi dan menerima berkat dari Romo Agus. Kehadiran mereka menambah suasana kekeluargaan dalam perayaan ulang tahun Persekolahan Santa Theresia Depok.
Usai misa, anak-anak mendapatkan makanan KFC. Sementara itu, para guru, karyawan dan jajaran Yayasan Yohanes Paulus Depok melanjutkan acara dengan pemotongan tumpeng ulang tahun dan makan bersama.
Dalam kesempatan tersebut, sejumlah guru juga mendapatkan penghargaan atas pengabdian mereka selama 15 tahun. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi Yayasan terhadap dedikasi para pendidik yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Persekolahan Santa Theresia Depok.
Ketua Pembina Yayasan Yohanes Paulus Depok, Joko Irianto, dalam sambutannya menjelaskan bahwa pemotongan tumpeng memiliki makna sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Bertambahnya usia sekolah menjadi momentum untuk mensyukuri keselamatan, kesejahteraan dan berbagai pencapaian yang telah diterima selama perjalanan Persekolahan Santa Theresia.
Perayaan HUT tersebut akhirnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan harus terus diarahkan pada pembentukan manusia yang utuh: memiliki pengetahuan, mampu mengembangkan bakat, berkarakter, dan terutama memiliki hati yang penuh kasih kepada Tuhan dan sesama.*

